Fesmed2018, Pontianak – Heart of Borneo merupakan lanskap alam seluas 22 juta hektar dengan kawasan hutan yang utuh. Jantung Borneo adalah rumah bagi jenis-jenis hidupan liar yang beraneka ragam seperti orangutan, macan dahan, gajah kerdil (Pygmy elephant), dan badak sumatera. Wilayah ini juga merupakan kawasan pengembangan sosial ekonomi penting bagi sumber mata pencaharian masyarakat lokal dan adat.

Kawasan seluas dua juta hektar, yang terbentang di bagian utara Kalbar hingga ke barat daya Sarawak, sudah menjadi lokasi proyek Koridor Lintas Batas HoB. Program ini ditujukan untuk pengembangan konsep pengelolaan ekonomi hijau yang menekankan pada produksi dan penggunaan sumber daya alam ramah lingkungan Melalui program tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi manusia dan alam.

Program ekonomi hijau berkontribusi pada lima pilar dalam Rencana Aksi HoB seperti yang disahkan oleh pemerintah Malaysia dan Indonesia, yaitu pengelolaan lintas batas, pengelolaan kawasan lindung, pengelolaan sumberdaya berkelanjutan, ekowisata, dan peningkatan kapasitas. Program ini akan mendemonstrasikan bagaimana pengembangan ekonomi berkelanjutan diintegrasikan dengan konservasi.

Program tersebut berada di wilayah koridor inisiatif HoB yang bertujuan menciptakan konektivitas ekologi antara kawasan-kawasan lindung dan penggunaan-penggunaan lahan yang berbeda, yang ada di Brunei Darussalam, dua negara bagian di Malaysia yaitu Sabah dan Sarawak, serta 4 provinsi di Indonesia yaitu Kalbar, Kalteng, Kaltim, dan Kaltara.

Pada perkembangannya, Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat menandatangani kesepakatan debt-for-nature swap dalam rangka Tropical Forest Conservation Act 2 senilai US 28,5 juta, pada 29 September 2011 di Jakarta. Dana tersebut akan dipergunakan untuk membantu upaya pelestarian hutan dan mitigasi perubahan iklim di Indonesia khususnya di Kalimantan. Kedua negara didukung oleh dua swap partners, yakni The Nature Conservancy dan WWF.

Debt-for-nature swap merupakan pengalihan hutang yang digunakan untuk membiayai program konservasi keanekaragaman hayati dan hutan tropis. Kesepakatan ini diatur dalam US Tropical Forest Conservation Act (TFCA), dimana Pemerintah Amerika dapat mengalihkan hutang dari negara-negara yang memiliki hutan tropis untuk tujuan konservasi.

Kesepakatan ini telah melahirkan model-model konservasi hutan tropis dan mitigasi perubahan iklim untuk mewujudkan pembangunan berkelanjutan. Saat ini, pembangunan dimaksud difokuskan di tiga kabupaten di Indonesia, masing-masing Kabupaten Berau dan Kutai Barat di Kalimantan Timur, dan Kabupaten Kapuas Hulu di Kalimantan Barat.

Komitmen pemerintah daerah terhadap konservasi area hutan yang luas disertai dengan keanekaragaman hayati dan kandungan karbon yang tinggi menjadikan ketiga kabupaten tersebut terpilih untuk menjadi model dalam pelaksanaan program TFCA II. Pelaksanaan program ini melibatkan berbagai pihak, khususnya masyarakat madani yang akan berperan sebagai pelaksana program, dan difasilitasi administrator.

Bagi TFCA, membangun sinergi dengan pelaku media, khususnya asosiasi yang mewadahi para jurnalis adalah hal penting untuk dibangun. Festival Media 2018 yang dilaksanakan oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Kota Pontianak kali ini adalah sebuah momentum yang tepat untuk berbagi pengalaman terkait program pelestarian keragaman hayati di Jantung Borneo yang telah diimplementasikan oleh lembaga-lembaga mitra TFCA Kalimantan dalam bentuk talkshow.

 

Tujuan

  1. Membangun kesadartahuan para pihak terkait pentingnya menjaga, merawat, dan melestarikan HoB.
  2. Menyampaikan sejumlah implementasi program TFCA di wilayah HoB
  3. Mengajak masyarakat luas mengampanyekan penyelamatan HoB dari berbagai aktivitas tidak ramah lingkungan.

Penyelenggara

Workshop ini diselenggarakan atas kerja sama AJI dengan Tropical Forest Conservation Act (TFCA) Kalimantan

Narasumber

  1. Puspa Dewi Liman (Direktur Program TFCA Kalimantan)
  2. Silvester Berasap (Kepala Desa Mensiau, Kecamatan Batang Lupar, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat)
  3. Sulhani (Direktur Yayasan TITIAN Lestari)
  4. Thomas Irawan Sihombing (Direktur Perkumpulan Kaban/Pendamping Petani Madu Hutan Kapuas Hulu)
  5. Hermayani Putera (Konsultan Ahli Ekowisata, TFCA Kalimantan)