Fesmed2018, Pontianak – Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) Yogyakarta bekerjasama dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta hendak menyelenggarakan diskusi buku saku panduan bagi jurnalis dalam meliput isu keberagaman dengan judul buku “Jurnalis Bukan Juru Ketik”. Buku ini berisi pengalaman ANBTI Yogyakarta bekerjasama dengan  AJI Yogyakarta selama 3 tahun terakhir. Penulisan buku saku berasal dari gagasan bersama melihat pengalaman kelompok agama dan kepercayaan yang ada di Yogyakarta mengalami peristiwa Intoleransi dan pemberitaan di media kurang mendukung perspektif keberagaman.

ANBTI Yogyakarta mendampingi penyintas dalam menghadapi situasi intoleransi dan persekusi terhadap kasus penolakan Camat Pajangan Bantul yang sempat ditolak karena beragama Katolik dan advokasi terhadap gugatan Gua Maria Wahyu Ibuku di Giriwening, Gunungkidul.  Selain itu pada kasus kekerasan terhadap Gafatar, penutupan sejumlah gereja di Gunungkidul, Sleman dan Bantul. Melihat potensi serangan dan kekerasan yang kerap terjadi, maka ANBTI berinisiatif untuk melakukan kerja-kerja advokasi dengan bekerjasama dengan jurnalis. Pilihan untuk bekerjasama dengan jurnalis adalah upaya untuk mendorong perspektif publik secara lebih luas dalam memahami isu Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB). Selain itu media dipandang mampu memberikan edukasi kepada masyarakat dan pemerintah sehingga upaya mendorong proses advokasi dapat dilakukan melalui pemberitaan di media.

Namun ANBTI Yogyakarta dan AJI Yogyakarta menyadari bahwa masih perlu melakukan konsolidasi dan sosialisi kepada jurnalis agar dalam menuliskan berita mereka memahami kaidah Hak Asasi Manusia, Undang-Undang yang berlaku, serta memiliki pengetahuan yang luas tentang siapa yang akan mereka tulis berdasarkan informasi yang benar. Maka buku ini juga dilengkapi dengan memperkenalkan agama-agama yang ada di Indonesia serta keyakinan yang ada. Aliran-aliran dalam agama yang berkembang di Indonesia.

Buku ini juga menyampaikan bagaimana peran narasumber sangat penting untuk memberikan perspektif kepada publik terhadap satu peristiwa yang terjadi. Maka peran pendamping, Civil Society Organization (CSO), akademisi, mahasiswa, tokoh agama adalah membantu jurnalis menemukan narasumber yang kompeten dan memiliki perspektif HAM dan KBB.

Pengalaman jurnalis dalam meliput isu keberagaman, tantangan, kendala di lapangan dalam berhadapan dengan penyintas, pemerintah dan kelompok intoleran diungkapkan oleh jurnalis dalam buku ini. Selain penulisan berita yang disampaikan, ada refleksi jurnalis terhadap pemberitaan yang ditulis, dampak yang kemudian dialami oleh penyintas baik yang positif maupun negatif. Peristiwa-peristiwa tersebut kemudian memberikan refleksi bahwa jurnalis dan penyintas harus saling mengenal dan memahami komunitas-komunitas yang rentan menjadi korban kekerasan atau diskriminasi. Sehingga kerjasama untuk mewujudkan hak asasi manusia secara khusus hak KBB dapat terus kita perjuangkan bersama.

Tujuan :

  1. Membagi pengalaman jurnalis dalam meliput isu KBB.
  2. Mendapatkan masukan/input atau pandangan lokal terhadap buku yang dihasilkan
  3. Menjadi panduan bagi jurnalis dalam menulis berita terkait isu KBB agar memiliki sensivitas terhadap korban.
  4. Menjadi panduan penyintas dalam berinteraksi dengan jurnalis.

Kegiatan :

Hari/ Tanggal : Sabtu, 22 September 2018
Waktu : 11.30 – 13.00 WIB
Tempat : Rumah Radakng, Pontianak

 

Panitia Penyelenggara :

Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) Yogyakarta

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Yogyakarta

 Narasumber :

  1. Agnes Dwirusjiyati (koordinator ANBTI Yogyakarta)
  2. Anang Zakaria (Ketua AJI Yogyakarta)

Moderator  :

Shinta Maharani (AJI Yogyakarta)