Fesmed2018, Pontianak – Semakin hari dunia menjadi semakin berbahaya bagi jurnalis, begitu ditulis oleh Committee to Protect Journalists (CPJ). Pernyataan tersebut sangat berdasar apabila kita melihat data global kekerasan terhadap jurnalis yang terus meningkat. CPJ mengatakan rata-rata terdapat 30 jurnalis di dunia yang terbunuh setiap tahunnya. Sembilan dari sepuluh kasus pembunuhan terhadap jurnalis tersebut berakhir tanpa ada hukuman kepada pelaku. Kekerasan, ancaman dan pelecehan terjadi pada ratusan jurnalis setiap tahunnya.

 

UNESCO dan International Federation of Journalists (IFJ) juga menyebutkan adanya tren peningkatan kekerasan terhadap jurnalis. Dalam laporannya, dua organisasi tersebut mengatakan terdapat 825 jurnalis dan pekerja media yang dibunuh selama sepuluh tahun terakhir. Mayoritas korban adalah jurnalis yang tidak bertugas meliput peperangan. Serangan kepada awak media justru banyak terjadi di area non-konflik. Menurut laporan tersebut penyerangan sering dilakukan geng kriminal, paramiliter, petugas keamanan dan polisi.

 

Tingginya angka kekerasan terhadap jurnalis ini juga terjadi di Indonesia. Pada 2017 Aliansi Jurnalis Independen mencatat setidaknya terjadi 60 kekerasan terhadap jurnalis—baik berupa kekerasan fisik, pengusiran atau pelarangan liputan, ancaman kekerasan atau teror, perusakan hasil peliputan dan pemidanaan jurnalis. Ini adalah angka kekerasan tertinggi kedua dalam sepuluh tahun terakhir.

 

Data kekerasan terhadap jurnalis pada 2017 menunjukkan bahwa kekerasan fisik merupakan yang terbanyak, yaitu 30 kasus. Potret ini seperti mengulang situasi tahun 2016. Pada tahun itu jenis kekerasan terbanyak juga berupa kekerasan fisik (36 kasus). Dalam kasus kekerasan 2017, pelakunya terbanyak adalah warga, yaitu sebanyak 17 kasus. Ini memang bukan fenomena yang sepenuhnya baru. Pada tahun 2016 kasus kekerasan yang dilakukan warga mencapai 26 kasus, tahun 2015 sebanyak 17 kasus. Pelaku kekerasan kedua terbanyak di tahun 2017 adalah polisi (15 kasus) dan pejabat pemerintah atau eksekutif (7 kasus).

 

Tapi jika dilihat lebih dalam, berdasarkan kluster latar belakang peran pelaku dalam sistem bernegara, aparatur penyelenggara negara menjadi pelaku terbanyak dalam kasus kekerasan terhadap terhadap jurnalis. Aparat penyelenggara negara ini termasuk di dalamnya eksekutif dan legislatif baik di pusat maupun di daerah, polisi, Satpol PP, tentara. Persentasenya mencapai 55; persen dari total kasus sepanjang 2017;. Kondisi ini tentu memprihatinkan.

 

Selain itu, persekusi terhadap oleh kelompok massa juga mulai menjadi trend akhir-akhir ini. Kelompok massa ini  memperlihatkan bentuk protesnya dengan cara mengekspos profil wartawan di media sosial dan disertai dengan kata-kata atau bahasa yang intimidatif. Profil jurnalis dan apa berita yang ditulisnya dikolase dan diseabr ke media sosial para pendukung kelompok ini. Tentu saja, ini sangat berbahaya bagi jurnalis untuk ditelusuri latar belakang informasi pribadinya yang kemudian berpotensi untuk dipersekusi.

 

Indonesia saat ini memasuki tahun politik. Pemilu serentak, legislatif dan pemilu presiden tahun 2019 mendatang kembali membuka ajang kontestasi rivalitas antar pendukung calon. Hiruk pikuk perhelatannya sering kali menimbulkan gesekan konflik tak terkecuali kekerasan terhadap jurnalis. Di luar agenda politik, sebetulnya banyak ancaman lain juga terpapar di depan mata. Konflik agraria dan sumber daya alam masih seperti “api dalam sekam” yang bisa menganga kapan saja. Di sisi lain, jurnalis dituntut untuk selalu bekerja profesional, tunduk pada kode etik dan menjalankan amanat undang-undang pers sebaik-baiknya.

 

Aliansi Jurnalis Indonesia meletakkan isu keselamatan jurnalis merupakan hal utama. Tentang begaimana menjaga mengantisipasi kekerasan terhadap jurnalis, akan diulas dalam Talkshow Festival Media AJI 2018. Narasumber akan bercerita seputar standar prosedur antisipasi serta penanganan kekerasan. Lalu seperti apa pula jurnalis berprilaku dalam kerja-kerja jurnalistiknya menyajikan informasi publik.

Narasumber:

Aryo Wisanggeni, Bambang MBK

Moderator dan PIC :

JAP (Pengurus Bidang Advokasi AJI)