Fesmed2018, Pontianak – Semakin mudahnya akses internet menjadikan informasi dapat mudah diterima. Orang menjadi bisa mengakses segala hal dengan cepat. Problemnya, informasi itu tidak memiliki filter, sehingga segala jenis informasi, yang benar dan yang hoaks bisa sampai ke orang tanpa hambatan.

Penyebaran berita hoaks ini yang menjadi tantangan. Tak sedikit warga yang sering terjatuh dalam informasi yang salah. Tidak cuma warga, media arus utama juga punya kendala untuk memfilter informasi hoaks. Hanya segelintir media yang akhirnya bisa mempertahankan akurasi dan kredibilitasnya.

Media arus kualahan menahan arus informasi dari media sosial yang sedemikian cepat menyampaikan informasi. Informasi yang benar dan hoaks menjadi sulit dideteksi karena jumlah dan kecepatannya menyebar. Kegagapan ini yang terkadang membuat media arus utama turut berkontribusi menyebarkan berita palsu itu.

Kondisi ini diperparah dengan media-media yang memproduksi hoaks untuk berbagai kepentingan, ekonomi hingga politik. Pada tahun 2017 saja misalnya, Kementerian Informasi dan Komunikasi RI merilis data ada 800ribu situs yang memproduksi hoaks di Indonesia.

Jenis berita palsu atau hoaks juga muncul dalam bentuk berita, dengan format editorial, advertorial, atau yang lainnya. Kabar bohong dengan menampilkan informasi yang salah serta gambar yang menyesatkan dikemas dengan baik untuk memutarbalikkan kebenaran.

Pada era semakin derasnya informasi di internet dan semakin banyaknya pengguna media sosial di Indonesia, kejahatan didunia maya pun semakin beragam, salah satunya adalah pembajakan akun pribadi dan pencurian data digital.

Bahkan beberapa waktu yang lalu Instagram sempat mengeluarkan peringatan resmi kepada para penggunanya tentang kemungkinan pembobolan keamanan yang terjadi pada informasi kontak pengguna, khususnya akun high profile yang menjadi target utama. Dalam pembobolan itu, Instagram juga menyatakan bahwa kebocoran data kontak pengguna seperti alamat email dan nomor telepon yang terkait dengan setiap akun jatuh ke tangan hacker.

Tidak hanya Instagram, beberapa kali ditemui kasus akun social media maupun email dibajak oleh hacker untuk digunakan kepentingan tertentu. Contohnya saja tahun lalu, akun Twitter CEO Facebook Mark Zuckerberg pernah dibajak oleh orang tidak bertanggung jawab. Contoh lain di Indonesia, akun Facebook milik mantan hakim MK, Jimly Asshiddiqie juga pernah dibajak oleh seseorang yang digunakan untuk menjual laptop. Terkadang akun media sosial yang dibajak juga sengaja digunakan untuk menyebarkan berita palsu dan hoax. Kemudian diperparah dengan disebarkan ulang (re-share) oleh akun lain yang tidak memverifikasi dulu kebenaran berita atau informasi itu sehingga viral di dunia maya.

Dengan berdasarkan latar belakang ini, Aliansi Jurnalis Idependen bekerjasama dengan Internews dan Google News Initiative akan mengadakan serangkaian halfday basic workshop yang diperuntukkan untuk masyarakat umum, pegiat NGO, mahasiswa, akademisi,dll, mengenai bagaimana mendeteksi berita palsu, hoax, atau misinformasi, serta bagaimana pengamanan diri di dunia digital yang sehat dan aman.

Narasumber:

1. Revolusi Riza (CNN Indonesia)

2. Edho Sinaga (RRI Pontianak)

Moderator dan PIC :

Kresna (AJI Indonesia)