Cek Fakta Menangkal Bahaya Hoaks

JAMBI — Seminar bahaya hoaks dan cara menangkalnya digelar pada hari kedua penyelenggaraan festival media AJI 2019 pada Minggu (17/11/2019). Pembicara dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Aribowo Sasmito menyampaikan bahwa perkembangan teknologi yang kian maju membawa konsekuensi pada penyebaran informasi yang salah.

Dengan menggunakan smartphone semua bisa jadi jurnalis, siapa yang menjadi kontributor informasi hoaks menjadi tidak jelas lagi.

“Banyak kasus informasi hoaks yang diarak warga menjadi viral lalu dimuat media menjadi berita tanpa disertai cek fakta,” kata Aribowo.

Bahkan dengan teknologi di ujung jari dengan tampilan lebih tipis ternyata juga menyasar tokoh-tokoh besar. Ari moncontohkan beberapa kasus yang pernah mencuat dimedia sosial.

“Banyak informasi hoaks yang justru melibatkan orang atau tokoh, parahnya lagi ada yang ikut menyebarkan informasi bohong,” katanya.

Anita Wahid Presidium Mafindo juga hadir menjadi pembicara. Dia mengatakan ada pola penyebaran berita hoaks dengan segenap kepentingannya, merugikan banyak pihak. Informasi bohong ini menyasar orang-orang atau kelompok tertentu, biasanya pada momen pemilu tren penyebatan berita hoaks lebih tinggi.

“Seperti pada pemilukada tahun 2014, 2017 DKI Jakarta dan 2019. Semuanya dibentuk untuk kepentingan politik,” kata Anita Wahid.

Anita menjelaskan kenapa masyarakat mudah dipengaruhi lantaran pihak yang menggunakan hoaks sebagai senjata sadar betul pada hal yang rentan misalnya emosi. Ada dua kelompok emosi yang bisa dimunculkan dari hoaks.

Pertama kelompok pada ancaman emosi diri yang menimbulkan kekhawatiran, rasa cemas dan rasa takut biasanya muncul.

Kemudian kelompok identitas yang merasa diri terancam berkaitan dengan isu agama dan ras. “Ada korelasi menarik yang perlu dikaji ulang, penelitan mafindo setiap kali ada peristiwa politik maka hoaks jumlahnya naik,” kata Anita.

Ia juga mengatakan semua konflik besar yang ada di Indonesia selalui diawali dan atau disertai hoaks termasuk konflik keagamaan dan kesukuan. Emosi warga diaduk-aduk sehingga gampang tersinggung dan gampang marah. Akibatnya sangat mudah melakukan tindak kekerasan.

“Dampaknya empati pada kelompok lain bisa hilang, empati pada nilai-nilai kemanusiaan kita itu juga hilang. Bahayanya lagi begitu pilpres selesai ternyata polarisasinya masih bisa dimanfaatkan oleh yang punya agenda,” ujar Anita.

Sementara Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Wahyu Dhiyatmika mengatakan disinilah harusnya media berperan menjadi garda terdepan melawan hoaks.

“Di AJI ada yang namanya cek fakta dan itu pernah dilakukan temen-temen media. Persoalannya ketika kita menyampaikan kebenaran kita malah dituduh menyebar hoaks. Padahal justru pemerintah yang terkadang tidak menempatkan persoalan yang semestinya,” ujarnya.

Untuk itu dia mengajak publik mencari sumber informasi dari media yang memang mengedepankan kualitas sebagai sumber referensi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *