GOJEK Berbagi Tips UMKM Digital Marketing di Jambi

JAMBI–Sekitar kurang lebih 12 juta menu hadir menjadi katalog merchant kuliner terlengkap dalam 500 ribu mitra merchant dalam aplikasi Gojek. Ini dikarenakan melihat besarnya minat orang Indonesia dalam memesan kuliner pada layanan GoShop. 

Berdasarkan hal tersebut, Gojek selalu fleksibel dalam menjalankan bisnis dengan memanfaatkan peluang dan pangsa yang besar.  Sehingga muncullah layanan GoFood.  Namun bagi pelaku kuliner, ketika akan memulai suatu Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) kerap dihadapkan oleh banyaknya kendala dan keterbatasan.

Persoalan inilah yang melatarbelakangi Gojek memberikan Workshop UMKM Digital Marketing dalam acara Festival Media 2019 se Indonesia oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) di aula BPSDM Kota Baru yang diikuti oleh anggota AJI kota maupun masyarakat umum, pada Minggu (17/11/2019). 

VP Corporate Affairs Gojek Michael Say mengatakan, GoFood menjadi bisnis paling besar. Dimana Go Food sendiri merupakan layanan pesan antar online makanan terbesar di Asia. Namun jika dilihat dari sisi dunia, menjadi tiga teratas layanan pesan antar. “Bayangkan bagaimana orang Indonesia itu hobi makan. Sebenarnya ini menjadi peluang di Indonesia yang bisa dimanfaatkan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Michael menyampaikan bahwa setidaknya ada tiga hal penting yang perlu diperhatikan dalam memulai suatu UMKM Digital. Pertama, sesuai dengan aspirasi Gojek untuk memberikan layanan bermanfaat kepada masyarakat. Maka Gojek sendiri berupaya terus menaik kelaskan UMKM di Indonesia. Seperti mulai dari usaha kecil, menengah, hingga usaha yang lebih besar.  

Selanjutnya, bagaimana usaha yang akan dijalankan itu dapat memecahkan permasalahan sosial dan yang bisa membantu orang lain. “Kemudian yang terakhir kita harus tahu ke siapa akan dijual, tahu apa yang dibutuhkan oleh masyarakat. Jadi harus tahu karateristik peminatnya dan pelanggannya,” tuturnya.

Untuk diketahui, dampak Gojek terhadap mitra UMKM diantaranya adalah 98 persen responden merasa kemitraan dengan Gojek menguntungkan. Sekitar 93 persen mitra UMKM mengalami peningkatan volume transaksi setelah menjadi mitra GoFood yang rata-rata kenaikan omset UMKM naik 3,5 kali lipat. Sebesar 93 persen UMKM go online pertama kali sejak bermitra dengan GoFood dan 75 persen UMKM menerapkan pembayaran non-tunai pertama sejak menjadi mitra GoFood. (rna)

Jurnalisme Jangan Memperuncing Konflik

JAMBI—Sejumlah pemberitaan tentang Papua membuat media harus lebih hati-hati. Jurnalisme damai harus diterapkan agar tak memperuncing konflik. Sunudyantoro editor media Tempo mengatakan, dampak dari pemberitaan harus dipikirkan matang, agar pemberitaan tidak menimbulkan ekskalasi konflik lebih berat.

“Jurnalisme damai harus meliput masyarakat atau narasumber yang terlibat langsung dengan peristiwa. Untuk memverifikasi fakta yang ada di Papua,” kata Sunu sebagai pembicara dalam Seminar Jurnalisme Damai: Refleksi Konflik Papua, pada Minggu (17/11).

Ada beberapa kasus sensitif yang tidak berimbang selama ini, seperti isu stunting di Asmat, namun terbentur sumber-sumber resmi negara seperti polisi dan tentara. Ini problem utama meliput isu Papua. Sunu mengatakan isu Papua harus ditulis secara cover bothside terutama kasus konflik seperti di Wamena dan Nduga.

“Negara memiliki cara pandang kepada Papua adalah gerakan separatis, bukan persoalan kemanusiaan atau human rights, ekonomi, pendidkan dan kesehatan. Sentimen nasionalisme yang dicekoki kepada publik apabila bicara soal Papua,” ungkapnya.

Syofriardi Bachyul dari Jakarta Post bercerita pengalamam liputan kejadian konflik Wamena terkait pembantaian suku minang beberapa waktu lalu. Menurutnya, konflik itu murni demo siswa terkait ucapan rasis SMA PGRI.

“Tidak terkait dengan OPM atau gerakan separatis. Sementara polisi hanya merilis nama-nama orang yang terbunuh, tidak ada alamat dan identitas dan bagaimana orang Papua terbunuh. Ini terjadi terus di Papua. Ada apa dengan negara,” ungkapnya.

Adapun pembicara dari Voice of America (VoA) Indonesia Ahadian Utama menekankan pentingnya jurnalis mempertimbangkan dampak pemberitaan konflik.  Jurnalis dituntut untuk peka. 

“Jangan sampai media memperuncing konflik,”ungkapnya.

Belajar Menjadi Fotografer yang Baik di Fesmed 2019

JAMBI – Klinik fotografer heritage cukup menyedot antusiasme peserta dalam kegiatan festival media AJI pada hari kedua, Minggu (17/11). Workshop ini menghadirkan Feri Latief, Jurnalis foto National Geographic Indonesia sebagai narasumber. 

Feri menerangkan, foto yang baik adalah foto yang berbicara. “Jadi kita tak harus menerangkan lokasi fotonya dimana. Dengan foto itu saja sudah bisa menerangkan dimana lokasi foto itu diambil misalnya,” katanya. 

Selain itu, Feri juga menerangkan bahwa cagar budaya bukan hanya sebuah monumen peninggalan berupa prasasti. Namun heritage juga termasuk di dalamnya bisa saja sebuah kota yang harus dilestarikan. 

Lantas, bagaimana memotret yang bagus, terutama yang berkaitan dengan cagar budaya. Menurut dia, semakin dekat fotografer dengan subjek foto, maka foto akan semakin bagus. 

“Terus gimana kalau lokasinya jauh? ya jadi kita harus riset lewat internet dulu. Setelah ke lokasi kita tahu mau motret apa disana. Jadi konsepnya harus direncanakan terlebih dulu,” imbuhnya. 

Feri Latief menjelaskan, sebelum memotret harus ada perencanaan. Lakukan riset dan tentukan konsepnya. 

“Kemudian on the field, kreativitas improvisasi dan penyesuaian. Setelah itu afternya. Ini yang paling sulit biasanya, karena fotografer biasanya sulit memilih mana foto yang terbaik dari sekian banyak yang dipotret untuk kemudian masuk dalam tahap yang terakhir, yaitu editing,” ungkapnya. 

Dia menegaskan, foto yang bagus adalah foto yang bisa menyampaikan pesan di dalamnya untuk dirasakan orang yang melihatnya.

Cek Fakta Menangkal Bahaya Hoaks

JAMBI — Seminar bahaya hoaks dan cara menangkalnya digelar pada hari kedua penyelenggaraan festival media AJI 2019 pada Minggu (17/11/2019). Pembicara dari Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) Aribowo Sasmito menyampaikan bahwa perkembangan teknologi yang kian maju membawa konsekuensi pada penyebaran informasi yang salah.

Dengan menggunakan smartphone semua bisa jadi jurnalis, siapa yang menjadi kontributor informasi hoaks menjadi tidak jelas lagi.

“Banyak kasus informasi hoaks yang diarak warga menjadi viral lalu dimuat media menjadi berita tanpa disertai cek fakta,” kata Aribowo.

Bahkan dengan teknologi di ujung jari dengan tampilan lebih tipis ternyata juga menyasar tokoh-tokoh besar. Ari moncontohkan beberapa kasus yang pernah mencuat dimedia sosial.

“Banyak informasi hoaks yang justru melibatkan orang atau tokoh, parahnya lagi ada yang ikut menyebarkan informasi bohong,” katanya.

Anita Wahid Presidium Mafindo juga hadir menjadi pembicara. Dia mengatakan ada pola penyebaran berita hoaks dengan segenap kepentingannya, merugikan banyak pihak. Informasi bohong ini menyasar orang-orang atau kelompok tertentu, biasanya pada momen pemilu tren penyebatan berita hoaks lebih tinggi.

“Seperti pada pemilukada tahun 2014, 2017 DKI Jakarta dan 2019. Semuanya dibentuk untuk kepentingan politik,” kata Anita Wahid.

Anita menjelaskan kenapa masyarakat mudah dipengaruhi lantaran pihak yang menggunakan hoaks sebagai senjata sadar betul pada hal yang rentan misalnya emosi. Ada dua kelompok emosi yang bisa dimunculkan dari hoaks.

Pertama kelompok pada ancaman emosi diri yang menimbulkan kekhawatiran, rasa cemas dan rasa takut biasanya muncul.

Kemudian kelompok identitas yang merasa diri terancam berkaitan dengan isu agama dan ras. “Ada korelasi menarik yang perlu dikaji ulang, penelitan mafindo setiap kali ada peristiwa politik maka hoaks jumlahnya naik,” kata Anita.

Ia juga mengatakan semua konflik besar yang ada di Indonesia selalui diawali dan atau disertai hoaks termasuk konflik keagamaan dan kesukuan. Emosi warga diaduk-aduk sehingga gampang tersinggung dan gampang marah. Akibatnya sangat mudah melakukan tindak kekerasan.

“Dampaknya empati pada kelompok lain bisa hilang, empati pada nilai-nilai kemanusiaan kita itu juga hilang. Bahayanya lagi begitu pilpres selesai ternyata polarisasinya masih bisa dimanfaatkan oleh yang punya agenda,” ujar Anita.

Sementara Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Wahyu Dhiyatmika mengatakan disinilah harusnya media berperan menjadi garda terdepan melawan hoaks.

“Di AJI ada yang namanya cek fakta dan itu pernah dilakukan temen-temen media. Persoalannya ketika kita menyampaikan kebenaran kita malah dituduh menyebar hoaks. Padahal justru pemerintah yang terkadang tidak menempatkan persoalan yang semestinya,” ujarnya.

Untuk itu dia mengajak publik mencari sumber informasi dari media yang memang mengedepankan kualitas sebagai sumber referensi.

 

Drone Emprit: Data Cagar Budaya Masih Berserakan

JAMBI-Founder Drone Emprit , Ismail Fahmi menegaskan bahwa di era big data cagar budaya saat ini masih berserakan.

“Perilaku di internet terus naik. Data naik luar biasa saat ini di internet. Tapi sayangnya banyak data yang tak terstruktur, termasuk data cagar budaya,” katanya dalam talkshow pemeliharaan cagar budaya di era big data, Festival Media 2019, Jambi.

Salah satu hal yang semestinya bisa dilakukan di era big data saat ini adalah menghidupkan cerita soal cagar budaya.

“Video banyak tidak soal cagar budaya. Misalnya di Lambur, Tanjung Jabung Timur, sudah ada filmya belum. Banyak yg suka soalnya. Itu perlu dihidupkan ceritanya. Di Jepang contohnya. Bisa menghidupkan kisah,” ujarnya.

Di era big data, menurut Ismail Fahmi, sangat perlu interaksi. Misalnya untuk menghidupkan museum perlu disesuaikan dengan perilaku generasi sekarang.

“Tren sekarang, mereka suka selfie lalu share di media sosial. Nah kalau bisa dibuat museum tiga dimensi. Kalau bisa untuk cagar budaya pasti keren,” ucapnya.

“Selain itu kan google punya program art and culture. Kira-kira sudah sejauh mana museum ataupun BPCB memanfaatkan program itu. Jadi nantinya lewat program itu, seperti street view dan bisa melihat masuk ke dalam museum. Jadi seperti kita melihat langsung,” katanya lagi.

Sejarawan dan jurnalis Wenri Wanhar juga menjadi narasumber dalam talkshow ini. Dia  mengatakan bahwa saat ini sudah saatnya bangsa Indonesia menelusuri sejarahnya sendiri.

“Salah satu pelajaran yang penting, adalah pemeliharaan cagar budaya. Tidak ada pohon besar di dunia ini yang akarnya lemah. Kalau kita mau jadi bangsa besar, akarnya mesti kuat,” ucapnya.

Sementara itu, pembicara Kepala BPCB Jambi Iskandar mengatakan bahwa pihaknya sudah bisa diakses secara online. Sudah ada petugas yang dilatih untuk mengelolanya.

“Kita sudah mulai menyesuaikan dengan era big data. Di samping itu tentu peran media massa sangat penting untuk menyampaikan informasi soal cagar budaya,” ujarnya.

Pra Event Fesmed: Puluhan Jurnalis se-Indonesia Ikuti HNJW di Jambi

 

#FesmedAJI2019 – Mendekati pergelaran Festival Media (Fesmed) yang akan berlangsung beberapa hari lagi, sejumlah kegiatan dari Aliansi Jurnalis Independen ( AJI) Indonesia terus dilakukan. Salah satunya workshop Health and Nutrition Journalist Workshop (HNJW) 2019, yang digelar di Hotel Aston, Kota Jambi, Kamis (14/11).

Dalam kegiatan yang digelar di hotel Aston Jambi ini membahas isu kesehatan anak, khususnya gizi dilingkungan keluarga. Salah satu narasumber yakni Ferlian Amnun selaku Ketua DPD Persagi Jambi. Ia membeberkan pengetahuannya, terkait masalah gizi pada anak yang ada di Indonesia, khususnya Provinsi Jambi.

“Secara nasional, masalah gizi pada anak di Indonesia masih menjadi masalah. Masalah Gizi itu ada banyak, bisa dari berat badan anak, tinggi badan, dan lainnya. Nah kita harus tahu, anak diusianya apakah sudah tepat dengan tinggi yang normal diusianya,” katanya.

“Seperti di Provinsi Jambi, itu kasus tinggi anak yang dibawah normal itu paling banyak kasusnya di Kerinci. Itu paling tinggi,” lanjutnya.

Menurutnya, pemberian gizi yang baik untuk anak dapat dimulai dari ibu yang sedang hamil. “Jadi kita harus jaga gizi anak sejak dari ibu hamil. Seorang ibu yang hamil itu harus diberikan nutrisi makanan yang baik. Hingga sampai menyusui. Ibu juga harus sejahtera, jangan sampai ada pikiran yang mengganggu kualitas air susu ibu,” katanya.

Selain narasumber dari unsur pemerintah, dalam workshop tersebut juga menghadirkan pembicara dari latar belakang praktisi kesehata. Para pemateri yang dihadirkan akan memaparkan tentang isu yang relevan dengan masalah nutrisi di Indonesia.

Ayo Ramai-Ramai ke Fesmed

Festival Media 2019 merupakan agenda tahunan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia. Untuk tahun ini AJI Jambi dipercaya menjadi tuan rumah.

Agenda dan rangkaian Fesmed ini menjadi bagian dari upaya AJI untuk meningkatkan kapasitas multipihak.

Ketua AJI Kota Jambi, M Ramond EPU mengatakan, Fesmed 2019 menjadi satu di antara momen mempertemukan  jurnalis, media, dan masyarakat melalui rangkaian kegiatan yang menarik. Ini bertujuan meningkatkan kapasitas semua pihak.

Festival Media bukanlah kegiatan yang hanya dikhususkan untuk media atau jurnalis. Kegiatan ini juga menyasar upaya membangun dan meningkatkan kapasitas masyarakat, generasi milenial, dan tentu saja jurnalis.

Lewat pelaksanaan workshop dan talkshow, serta pameran yang akan diadakan selama acara, yang akan berlangsung dua hari, yakni 16-17 November 2019.

Selain workshop Klinik Foto Heritage, juga akan akan workshop Menjadi Presenter yang akan diisi oleh VOA Amerika, Jurnalisme Data dan Klinik Infografis, Mobile Journalism, Meliput Isu Lingkungan, Publikasi Heritage, Workshop Konservasi dan Dokumenter Lingkungan.

Sedangkan Talkshow yang dihadirkan setidaknya ada dua. Pertama, Pemeliharaan Warisan Budaya di Era Big Data. Kedua, Hoax dan Literasi Media.

Belajar Jadi Presenter Barsama Alfian Rahardjo CNN Indonesia di Fesmed 2019

Jambi, #FesmedAJI2019- Buat kamu yang punya bakat dan minat besar dibidang presenter, workshop menjadi presenter mungkin menjadi salah satu jalan untuk megasah kemampuan dibidang ini.

Workshop menjadi presenter merupakan salah satu kelas yang akan dihadirkan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) pada Festival Media (Fesmed) yang berlangsung di Jambi 16-17 November 2019.

Kelas yang satu ini akan diisi oleh Alfian Rahardjo, News Anchor CNN Indonesia. Kepiawaiannya dalam membawakan segmen acara tentu tak asing lagi bagi penggemar program Good Morning.

Alfian mengawali karirnya sebagai penyiar radio di Solo, Jawa Tengah. Kepiawaiannya membawa acara pun dikemudian hari menjadikannya salah satu presenter yang cukup dikenal.

Alfian Rahardjo yang juga merupakan dosen di salah satu universitas di Jakarta ini nantinya akan berbagi ilmu seputar aktifitas presenter. Berbagai tips dan cara mewujudkan mimpi menjadi presenter akan di kupas pemateri satu ini.

Untuk pelajar, mahasiswa, jurnalis ataupun warga yang tertarik mengikuti workshop menjadi presenter bisa mendatar di link bit.ly/Jadi_Presenter

Selain workshop menjadi presenter, ada banyak kelas yang bisa di ikuti pada fesmed yang akan berlangsung di BPSDM Provinsi Jambi pada 16-17 November 2019 yang tinggal beberapa hari lagi.

Selain itu, ada banyak stand pameran menarik yang bisa dikunjungi di acara ini. Untuk mendukung minat presenter VOA Amerika juga akan membuka stand. Disana penguniung bisa berakting sebagai presenter hingga menambah wawasan tentang presenter.

Tak hanya itu, sejumlah stasiun televisi lokal Jambi juga akan ikut berpartisipasi. Seperti Jambi TV, Jek TV, TVRI Jambi dan Kompas TV Jambi juga akan membuka stand dan memberi pemahaman tentang presenter hingga membuka audisi presenter dilokasi kegiatan.

Suang Sitanggang, panitia pelaksana Fesmed 2019 mengatakan, ajang Festival Media yang digelar di Jambi memberi ruang bagi warga mengenal lebih jauh seputar aktifitas jurnalistik di Jambi.

“Kita iingin menghadirkan Jurnalis ditengah masyarakat, memberi pemahaman dan berbagai kelas Workshop dan Talkshow yang lebih mencerakan tentang dunia jurnalis,” katanya.

“Festival Media ini digelar setiap tahun. Tapi untuk di Jambi tahun ini adalah kesempatan kita menjadi tuan rumah yang baik. Karena kita belum tahu kapan akan digelar kembali di Jambi, setiap tahun dilaksanakan di daerah berbeda-beda. Maka ini sebuah kesempatan baik untuk menghadirkan jurnlais ditengah masyarakat,” pungkasnya.

Yuk!!! Ikutin Lomba Vlog dan Foto On The Spot Pada Acara Fesmed 2019 di Jambi

Jambi, #FesmedAJI2019- Festival media 2019 yang akan berlangsung di Jambi tidak hanya menghadirkan 14 kelas workshop dan talk show saja. Ada beberapa lomba terbuka untuk umum yang juga menjadi bagian dari kegiatan ini. Lomba-loba tersebut, kudu diikuti kawula muda yang hadir di Fesmed.

Seperti kompetisi vlog dengan tema Heritage berhadiah jutaan rupiah juga bisa diikuti warga Jambi, baik pelajar, mahasiswa maupun masyarakat secara umum. Untuk lomba vlog akan dimulai pada tanggal 1 – 15 November 2019.

Untuk syarat dan ketentuan lomba vlog, durasi dua sampai dengan lima menit. Lalu uplod di IG TV akun Pribadi peserta masing-masing. Paling lambat pukul 23.59 Wib tanggal 15 November 2019.

Peserta wajib mencantumkan deskripsi karya vlog yang akan diikutsertakan pada lomba ini. Konten yang dibuat tak boleh mengandung sara.

Dan yang terpenting karya yang di ikut sertakan merupakan karya orisinal dan belum pernah di ikutkan pada lomba vlog. Jika terbukti maka panitia berhak menganulir pemenang.

Untuk lomba foto on the spot bisa kamu ikuti di lokasi acara. Foto yang di lombakan diambil di lokasi acara Festival media yang berlokasi di BPSDM Provinsi Jambi pada 16-17 November 2019.

Untuk ketentuan lomba foto On The Spot, jangan lupa follow akun instagram @aji_kotajambi. Upload foto karyamu yang akan di ikutsertakan pada lomba di IG Pribadi kemudian tag akun IG AJI Kota Jambi. Tag juga lima akun IG akun teman terdekat kemudian gunakan hashtag #FesmedAJI2019 dan #FotoOnTheSpotFesmed2019.

“Untuk lomba vlog saat ini sudah berjalan, untuk foto on the spot bisa diikuti pada saat kegiatan. Pemenang berhak dengan hadia total jutaan rupiah,” ujar Jaka Hendra Baitri, PIC Lomba Fesmed 2019.

Untuk pengumuman dilaksanakan pada tanggal 17 sebelum penutupan festival media AJI 2019. “Untuk lomba vlog, peserta juga disarankan repost pengumuman lomba yang ada di Instagram AJI Kota Jambi,” katanya.

Selain dua lomba itu, akan ada banyak stand menarik yang bisa warga kunjungi pada acara Fesmed 2019 ini. Jangan lupa ajak teman dan komunitasmu ke acara ini ya.

Dua Orang Trainer Google Bakal Berikan Tips Soal “Hoaks Busting and Digital Hygiene” di Fesmed

Jambi, #FesmedAJI2019- Hoax Busting and Digital Hygiene menjadi salah satu materi yang akan dihadirkan pada Festival Media yang akan berlangsung di Jambi pada 16-17 November 2019.

Hoaks Busting and Digital Hygiene merupakan salah satu materi yang sangat relevan dengan situasi saat ini, di mana akses internet dan media sosial kian bebas dan menjadi perhatian besar masyarakat pengguna smart phone.

Kemajuan teknologi yang tak dibarengi dengan budaya literasi membuat banyak pengguna media sosial terjebak dengan konten hoaks yang beredar secara luas.

Di sini lah pentingnya pemahaman pengguna media sosial untuk menyaring informasi hoaks dan bahayanya.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dalam berbagai kegiatan telah menghelat Workshop bertajuk hoaks busting and digital hygiene di berbagai daerah bekerjasama dengan Google News Initiative.

Di kelas ini peserta akan mendapat tips dan trik memaksimalkan tools google untuk mendeteksi informasi yang beredar merupakan hoaks atau bukan.

Dua orang pembicara dengan sertifikasi google akan mengisi kelas ini dengan materi yang dibutuhkan serta berbagai informasi baru penggunaan tools yang selama ini kurang dimaksimalkan pengguna smart phone.

Dua pemateri handal yang akan mengisi kelas ini adalah Revolusi Riza, kepala peliputan CNN Indonesia yang juga merupakan sekjen AJI Indonesia. Satu pemateri lainnya adalah Heri Novealdi, mantan ketua AJI Kota Jambi yang sudah tersertifikasi Google.

“Dua pemateri workshop ini memiliki kapasitas di bidangnya. Mereka berdua sudah tersertifikasi google,” kata Suang Sitanggang, Ketua Pelaksana Panitia Fesmed 2019-Jambi, Selasa (5/11/2019).

Kelas Hoaks Busting And Digital Hygiene digelar pada 16 November 2019 di BPSDM Provinsi Jambi pukul 13.00 – 15.30 WIB.

“Kelas ini terbuka untuk umum, pendaftaran silahkan ke link bit.ly/Hoaks_Busting,” demikian Suang.

Dirjen Kebudayaan Akan Hadiri Festival Media AJI

Jakarta- Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Hilmar Farid dijadwalkan akan menghadiri Festival Media AJI di kota Jambi 16-17 November 2019. Selain mengikuti rangkaian acara pembukaan, Hilmar Farid akan menjadi pembicara kunci dalam salah satu talkshow. Hilmar akan berbicara tentang eksistensi cagar budaya di era digitalisasi yang berkaitan dengan Tema Festival Media AJI “Literasi di Era Disrupsi”.

Dia pun menyambut gembira tema yang diusung AJI. Menurutnya, lapis-lapis peradaban yang datang ke Indonesia secara bergantian, mulai dari pengaruh India, Cina, kemudian eropa sangat penting untuk dipelihara. Gelombang akulturasi itu telah memperlihat kemampuan bangsa Indonesia untuk menerima dan mengolah kebuadayaan yang datang dari luar tersebut, dengan menampilkan lagi dengan cara yang berbeda khas Indonesia.

“Tentunya di samping punya nilai sejarah yang tinggi dia juga memperlihatkan karakter masyarakat Indonesia yang mampu menerima mengadaptasi dan mengolah kembali lapis-lapis peradaban yang datang kemudian menghasilkan karya-karya yang luar biasa dalam corak Indonesia yang khas,” katanya di ruang kerja Jumat lalu.

AJI mengangkat tema kebudayaan dalam festival media kali ini dan memberi konteks peradaban digitalisasi. Menurut Pai, sapaan akrab Hilmar Farid ini, AJI menyodorkan value baru dengan mengajak kita menyelami sumber-sumber literasi yang luhur melalui cagar budaya, serta mengangkat tema pelestariannya.

“Saya senang sekali karena festival media kali ini mengangkat kebudayaan, khususnya cagar budaya sebagai tema untuk pertama kalinya tentu kita sangat mendukung. Harapannya ada kerjasama yang lebih erat pelestarian cagar budaya dengan teman-teman media,”  katanya

Undangan untuk Hilmar Farid ke acara festival media AJI ini disampaikan langsung oleh Ketua Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Abdul Manan didampingi Sekretaris Jenderal Revolusi Riza, dan Ketua Pelaksana Nasional Festival Media AJI Joni Aswira, saat berkunjung ke kantor dirjen kebudayaan pada Jumat (1/11/) kemarin. Sejarawan sekaligus jurnalis AJI Wenri Wanhar juga ikut hadir dalam pertemuan tersebut.

Ketua AJI Abdul Manan mengatakan, Hilmar diminta berbicara tentang bagaimana menggali nilai-nilai heritage yang kira-kira cukup relevan dikembangkan di era sekarang ini.

“Yang kita harapkan bisa berkontribusi, bagaimana kita menjawab tantangan di era digital dengan banyaknya hoaks dan macam-mcam,” kata Ketua AJI Abdul Manan.

Sementara Ketua Pelaksana Nasional Joni Aswira mengatakan, kurang dari dua minggu lagi acara, persiapannya semakin matang. Sejumlah kegiatan yang disosialisasikan melalui media sosial telah menuai respon yang cukup bagus dari masyakarat. Bahkan untuk beberapa kegiatan workshop, jumlah pendaftarnya telah melebihi kuota.

“Karena kegiatan ini mempertemukan jurnalis, media, dan masyarakat, kita berharap ini menjadi pesta kita bersama. Sejauh ini antusiasmenya bagus, tidak hanya jurnalis AJI di berbagai daerah, tapi mahasiswa pelajar dan masyarakat kota Jambi juga sudah banyak yang mendaftar. Kita ingin seramai-ramainya karena eventnya banyak,” katanya.